Anugerah kepada yang bersalah (Kej 45:5-8; Amsal 12:16)
Posted by trisfant pada Desember 11, 2010
Oleh: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh
Balas dendam itu ada dua macam, pertama adalah balas dendam yang kasar dan kedua adalah balas dendam secara halus.
Balasa dendam secara kasar seperti kisah nuri dan gajah.
Ada seekor Nuri yang selalu mengejek siapa saja yang ditemuinya. Yang paling sering diejeknya adalah Gajah.
Ejekannya sangat menyakitkan hati. Masa dia mengata-ngatai begini, “Gajah gendut! Sudah gendut, lamban lagi! Padahal kau masih muda. Kalau sudah tua, bagaimana! Dan warna kulitmu abu-abu jelek. Membosankan! Hidungmu kepanjangan! Aneh sekali!”
Keterlaluan ya, dia.
diam saja. Setiap hari Nuri selalu mengejeknya. Tapi berpura-pura tidak mendengarnya, walau dalam hati dia sebetulnya jengkel sekali.
Beberapa tahun telah berlalu. Nuri tetap saja suka mengejek binatang-binatang lain dan mengejek , yang tak pernah membalasnya. Tapi pada suatu sore, terjadi hal yang mengejutkan. Matahari baru saja terbenam. Tiba-tiba binatang-binatang mendengar keributan hebat. Ternyata . Dia menuju ke pohon, tempat Nuri biasa tidur.
berdiri dengan empat kaki terpentang lebar. Belalainya dibelitkan ke batang pohon. Dia lalu mulai menarik dan mendorong. Sebentar saja pohon itu roboh ke tanah!
Kraaakkrakkkrakkk …… braaak! Nuri bingung, karena tiba-tiba saja dia terlempar ke tanah. Dia gemetar ketakutan. Di atasnya tampak tubuh raksasa . berkata, “Bertahun-tahun lamanya kau mengejekku. Aku sudah bersabar. Kini tiba saat pembalasan. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagimu dan mulai sekarang kau tidak lagi mengejekku ataupun binatang-binatang lain!”
Kisah ini adalah balas dendam secara kasar. Langsung nonjok, langsung memberikan hajaran. Namun ada juga balas dendam secara halus seperti kisah murid dan guru yang dijahilin murid-muridnya.
Pak Bambang adalah seorang guru matematika yang sangat ramah dan sabar , begitu sabarnya, sehingga terkadang murid murid nya suka mengerjai dan menjadikan objek gurauan.
Pada suatu pagi, murid murid nya yang iseng telah melumuri seluruh permukaan papan tulis dengan sabun. Lalu pak Bambang datang dan memulai pelajarannya dengan menuliskan rumus matematika di papan tulis. Karena papan tulisnya licin tentu saja kapur yang di pakainya selalu saja tergelincir tanpa meninggalkan bekas sama sekali.
Namun, tanpa merasa terganggu, ia terus menuliskan simbol-simbol yang tidak terbaca itu. Sesudah selesai menuliskan semua rumus rumus tersebut., Pak bambang mengibaskan debu debu kapur dari tangannya, mengambil tas nya dan mengumumkan sesuatu sebelum ia meninggalkan ruang kelas itu ” Baik lah anak anak , Besok Pagi akan di adakan ulangan tentang rumus rumus yang kalian lihat di papan tulis hari ini “
Pak bambang tidak langsung balas dendam secara kasar, lempar kapur kepada murid. Tetapi dengan halus dia membalas dengan cara memberikan ulangan tentang rumus-rumus yang enggak bisa dituliskan di papan tulis karena papan tulis sudah dilumuri dengan sabun.
Kita sebagai anak-anak Tuhan, tidak boleh membalas dendam. Mengapa kita tidak boleh membalas dendam?
Pertama, balas dendam itu merugikan diri sendiri.
Bagi orang dunia , pembalasan dendam itu manis. Tetapi bagi kita, pembalasan dendam itu merusak dan merugikan. Balas dendam hanyalah manis pada tahap perencanaan. Ketika seseorang memikirkan bahwa orang yang sudah menghinanya itu paling baik kalau diikat, kemudian di cabutin giginya satu satu. Maka mungkin dia akan merasa nikmat. Tetapi nikmatnya itu hanya pada tahap perencanaan saja. Setelah dia melakukan rencananya itu, maka dia akan merasakan ketidakpuasan yang berkepanjangan . Sebab orang yang sudah membalas dendam akan cenderung terus memikirkan, merenungkan, dan mengenang orang yang menyakitinya; hal itu menyiksa batin. Sementara orang yang tidak membalas dendam cenderung melanjutkan hidupnya dan tidak memusingkan orang yang menyakitinya. Jadi peribahasa, balas dendam itu nikmat, tidak akan dialami oleh mereka yang membalas dendam. Justru merugikan dirinya sendiri.
Selain itu, jika kita sudah membalas dendam, maka tidak akan pernah tercipta kondisi seimbang 1-1 seperti yang Anda pikirkan, karena Anda dan musuh Anda terjebak dalam drama balas-membalas. Awalnya mungkin benar dialah yang menyakiti saudara. Tapi karena Anda sakit hati dan membalas dendam, maka dia juga jadi terpancing ingin membalas dendam. Tidak terima dengan hal itu, Anda melancarkan balik lagi yang tentu akan diresponi dengan balas denam dari dia, dan demikian seterusnya. Sebuah siklus yang mengerikan. Hidup saudara akan merana dalam kondisi seperti itu. Saudara tidak bsia berkarya karena hanya memikirkan cara pembalasan dendam. Capek deh. Efek negative lainnya adalah, orang yang pendendam akan rentan terhadap penyakit. Emosi yang berkepanjangan akan menimbulkan banyak penyakit. Kepahitan akan melemahkan pertahanan tubuh kita terhadap penyakit.
Jadi hindarilah balas dendam. Kalau saudara balas dendam, maka saudara kalah dua kali. Pertama, pada saat dia menyakitimu, dia sudah menang satu kosong. Dan pada saat saudara balas dendam, dia menang lagi untuk kedua kalinya. Jadi dua kosong. Kenapa menang lagi? Sdr akan semakin menderita ketika membalas dendam dan kedua, saudara akan terlihat sama dengan dia. Saudara akan sama bersalahnya dan sama kanak-kanaknya. Firman Tuhan mengatakan:
” Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh. (Pro 12:16)
Seandainya Yusuf membalas dendam kepada saudara-saudaranya, maka dia akan mengalami kerugian. Hidupnya tidak akan tenang. Saudara-saudaranya akan balas lagi. Ayahnya tidak akan respek terhadap dirinya. Mungkin rakyat yang dipimpinnya juga akan tidak menghormatinya lagi karena Yusuf memiliki karakter yang buruk.
Yusuf menunjukkan dirinya dewasa, dan memiliki sikap yang benar tatkala dia tidak membalas dendam. Yusuf menunjukkan bahwa dirinya lebih superior daripada saudara-saudaranya dengan cara tidak tidak sakit hati, ataupun tidak ingin membalas dendam. Sebenarnya, inilah adalah ‘cara balas dendam’ yang paling manis, yakni tidak membalas dendam.
Kedua, mengapa jangan membalas dendam? Karena itu bukanlah karakter ilahi.
Secara manusia , ketika kita menghadapi orang yang telah berbuat salah kepada kita, maka kita ingin membalas segala perbuatan yang pernah dilakukannya dahulu. Bertahun tahun lamanya kamu menyiksa saya. Inilah saat pembalasanku.
Tetapi Yusuf tidaklah demikian. Ia sudah berubah. Dia adalah seorang anak Allah. Dia adalah seorang yang agung. Dia memiliki karakter ialhi. Pada waktu, saudara-saudaranya takut dan gemetar menghadapi dia. (Gen 45:3), Yusuf berkata “, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (Gen 45:5). Yusuf berkat:” bukan kalian yang mengirimku ke sini , tetapi Allah. Jawaban ini luar biasa. “tetapi Allah”. Perspektif Yusuf sangat tepat. Dia memiliki perspektif vertical. Perspektif inilah yang mengubah segalanya. Perspektif inilah yang membuat dia dapat mengampuni. Yusuf tidak lagi melihat saudara saudaranya sebagai musuh, karena perspektifnya telah diubah. Bukan kalian yang mengirimku ke sini tetapi Allah. Ia mengirimku ke sini untuk memelihar suatu bangsa yang besar.
Yusuf adalah seorang yang menjalani kehidupannya dengan perspektif ilahi. Bertahun tahun kemudian, Yusuf mengatakan kembali kalimat yang sama. Pada waktu itu saudara sauadaranya kuatir karena ayah mereka sudah meninggal. Mereka takut nanti Yusuf akan membalas dendama atas perbuatan yang dahulu pernah mereka lakukan terhadap Yusuf. Dan Yusuf kembali mengulangi perkataannya di dalam Kej 50:18-20.
Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Gen 50:18-20)
Betapa murah hatinya Yusuf.
Apakah saudara punya pengalaman yang buruk, dimana sdr diperlakukan tidak adil dan kejam oleh orang lain selama berbulan bulan bahkan bertahun tahun? Ketika mengingat akan hal itu, perspektif sdr menjadi kacau. Sdr marah, geram. Sdr mengingat perbuatan yang tidak adil itu. Sdr mengingat bagaimana dipermalukan oleh dia. Sdr mengnigat bagaimana di sakiti oleh dia. Kejahatan itu dilakukan kepada sdr. Orang-orang itu dengan sengaja menyakiti hati sdr. Memang harus diakui bahwa mereka memang bermaksud jahat kepada sdr. Tetapi cobalah ubah perspektif sdr. Mereka memang ebrmaksud jahat, TETAPI ALLAH mengizinkan itu terjadi dengan sebuah tujuan untuk kebaikan saya. Yusuf memiliki perspketif yang seperti ini. Sdr-sdrnya memang bermaksud jahat terhadap dirinya, tidak ada yang baik dalam motivasi mereka, TETAPI ALLAH, mereka rekakan untuk kebaikan. Charles Swindoll mengatakan :” TEOLOGINYA YUSUF MELEBIHI EMOSI MANUSIAWINYA DAN KENANGAN KENANGAN BURUKNYA. Kita pun harus bisa seperti itu, yakni teologi kita harus melebhi emosi manusiawi kita. Pikirkanlah selalu Allah. Allah pasti memiliki maksud baik ketika dia mengijinkan saya disakiti oleh dia. Saya mungkin sedang dibentuk untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus.
Kalau saudara sedang mengendarai mobil atau motor, dan kemudian motor atau mobilmu disalib oleh seseorang dengan tidak sopan, janganlah langsung marah. Ingatlah Tuhan dalam peristiwa itu. Mengapa Tuhan mengijinkan sdr diperlakukan seperti itu? Mungkin banyak alas an. Bisa untuk menguji kesabaran saudara. Bisa juga untuk beryukur kepada Allah bahwa sdr hanya disalib dari samping dan tidak ditabrak. Pokoknya, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Peristiwa apapun itu. Oleh sebab itu, janganlah langsung geram. Berikanlah pengampunan. Sdr akan mampu memberikan pengampunan kalau perspektifmu diubah.
Sikap sangatlah penting dalam kehidupan orang Kristen. Kita bisa saja mengikuti kebaktian minggu, kita bisa saja bawa alkitab , dan kita bsia saja masih menjalankan kehidupan agama kita, tetapi kita masih membalas dendam terhadap orang lain yang melakukan kejahatan terhadap kita. Membalas dendam bukanlah caranya Allah. Allah memeprlihatkan kepada kita cara yang benar, cara seperti Yusuf yakni berbelals kasihan, lemah lembut dan tidak egois.
Hati kita mesti benar. Kalau hati tidak benar maka kita akan marah kepada orang tua yang bercerai. Kalau hati tidak benar, maka kita akan dendam kepada orang tua yang mengabaikan kita. Ketika hati tidak benar , maka kita akan marah kepada guru yang mengecewakan kita. Allah diperlukan untuk membuat hati ini menjadi benar kembali. Kalau saudara memiliki sikap yang salah, itu berarti saudara memandang kehidupa secara manusiawi. Namun tatkala saudara memiliki sikap yang benar, maka sdr memandang kehidupan secara ilahi. Itulah sikap yang dimiliki oleh Yusuf, dia memandang kehidupan secara ilahi. Dia bersedia memberikan pengampunan karena dia mengerti bahwa Allah lah yang mengizinkan semua ini terjadi.
Bawalah sikap ini dalam kehidupanmu sehari hari. Perspektif kita harus berbeda dari perspektif dunia. Dan kalau kita sudah merasakan kasih Tuhan, maka kita akan bisa mengampuni.
Mungkin banyak yang dengar lagu “Sentuh Hatiku”, yang dinyanyikan oleh maria Shandy. Akan tetapi dibalik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa. Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan. Kisah di dalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya. Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung (dirantai) dirumahnya. Ia suka datang dan mendoakan anak itu sambil sesekali menulis lirik lagu. Waktupun berlalu… Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelpon dia.
Tentu saja kaget bukan main, krn anak itu kan gila. Dipasung pula? kok skrg bisa lepas? telp pula?
Akhirnya anak perempuan itu cerita. Suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh bapaknya!
Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata : “Kamu harus maafin papa kamu.”
Tetapi anak itu ga bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak…
Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata : “Aku mengasihimu”
Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan papanya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal.
Dari situlah lagu sentuh hatiku ditulis :
betapa ku mencintai segala yang telah terjadi
tak pernah sendiri, selalu menyertai
betapa kumenyadari didalam hidupku ini..
kau selalu memberi rancangan terbaik oleh karena kasih
Bapa sentuh hatiku, ubah hidupku, menjadi yang baru
Ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi..
KasihMu ya Tuhan tak pernah berhenti..
Hanya oleh kasih Tuhan lah , kita bisa mengampuni.