KOTBAH.ORG

KUMPULAN KOTBAH YOHANNIS TRISFANT, MTh

LEPASKANLAH KAMI (MATIUS 6:13)

Posted by trisfant pada September 3, 2011

Visi tentang hidup dalam keluarga Allah yang kita pelajari dari doa Bapa Kami memiliki tiga dimensi, yaitu sebuah kehidupan penyembahan, kebergantungan dan bahaya. Lepaskan kami dari yang jahat adalah sebuah seruan meminta agar dilindungi dalam menghadapi bahaya yang mengancam. Bahaya ini selalu mengancam orang orang percaya.

Bahaya

Dalam segala rutinitas kita yang nyaman, kita tidaklah menganggap bahwa hidup kita berada dalam bahaya. Padahal hidup kita sebenarnya berada dalam bahaya. Dalam doa Anglikan mereka menjabarkan doa “ lepaskanlah kami dari yang jahat seperti ini:”

Lepaskan kami dari dosa, dari Iblis….. dari semua kebutaan hati, dari kesombongan……..dari kematian yang mendadak, yang tidak diharapkan, yang tidak dipersiapkan. …….dari kekerasan hati………..dan sikap yang meremehkan firmanMu ….Tuhan yang baik, lepaskanlah kami dari semua itu.

Sekarang kita akan melihat kedalaman bahaya yang kita alami dan darimana bahaya itu muncul. Kelepasan yang kita minta dari Allah bukan hanya dari keadaan yang merugikan, tetapi keleepasan dari kejahatan yang ada dalam diri. Kelepasan dari dosa di dalam hati kita, kelepasan dari segala kecenderungan hati untuk melakukan hal hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan atau kelepasan dari kecenderungan hati untuk mencintai sesuatu atau seseorang lebih dari Allah sendiri. Semua itu adalah sumber bahaya. Hal yang paling berbahaya yang kita alami adalah dosa yang ada dalam diri kita.

TIPU DAYA DOSA

Semua kejahatan keluar dari hati manusia yang sudah jatuh dala dosa. Setan bisa saja terlibat dalam keberdosaan kita, namun sebenarnya dosa itu sudah ada dalam hati kita. Dosa bekerja dengan cara menipu kita (Ibrani 3:13). Kesombongan, kemunafikan, tidak kenal belas kasihan adalah dosa dosa yang seringkali kita lakukan tanpa kita sadari karena sudah ditipu oleh tipu daya dosa. Kita menganggap kita adalah orang yang rendah hati padahal kita sudah sombong. Pernah tidak saudara bersikap munafik tanpa saudara sadari? Munafik itu adalah apa yang ada dalam diri kita, tidak sama dengan apa yang nampak di luar. Banyak doa, pelayanan, sedekah, kegiatan agama dilakukan secara munafik. Doanya bukan sebuah hubungan lagi dengan Tuhan melainkan pameran kata kata. Sedekahnya bukan lagi karena digerakkan oleh kasih tetapi karena ingin dipuji. Orang farisi banyak jatuh ke dalam kemunafikan. Dosa sering memakai tipuan seperti ini untuk membuat kita berdosa. Bukan hanya kesombongan dan kemunafikan yang sering menipu kita , tetapi juga tidak adanya belas kasihan. Untuk membantu orang lain kita memberikan begitu banyak alasan untuk tidak membantunya. Dan kita merasa diri kita benar karena tidak membantunya. Kita tertipu. Padahal mungkin kita sudah berdosa karena tidak ada belas kasihan di dalam diri kita.

Oleh sebab itu kita mesti selalu berjaga jaga terhadap tipu daya dosa ini dan berdoa agar dilepaskan dari tipu daya dosa. Kita membutuhkan pimpinan Allah setiap waktu dalam menghadapi segala yang jahat, baik itu dari dalam maupun dari luar.

Salam

Yohannis Trisfant,

kotbah.org

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

PremiumHDV

Posted by trisfant pada September 2, 2011

The days of standard definition video are over. You have probably seen high-definition, or HD, on some of the videos you watch or printed on the box your television came in, and you may be wondering what makes HD quality video different.

In detailed terms, HD video is any video with a resolution of 1280 x 720 or 1920 x 1080, denoted by 720p and 1080i/1080p respectively. These formats of video can stretch anywhere from 24 to 60 frames per second and are widescreen (16:9). If you are looking at word on a television, for example, you may notice the words progressive inspect or interlace scan. Progressive scanning means the unrestricted picture is drawn object of every plan whereas interlace scanning, which is only for 1080 displays, is where half the lines are redrawn every other frame.

On average, universal digital television (SDTV) has 480 lines in the vertical pageant resolution compared to high-definition television’s (HDTV) 1,080 or 720 lines. If you are having a hard time conceptualizing the difference, over recall take bed sheets. The higher file reckon a subside of sheets has, the softer those sheets desire feel. A higher crowd of lines in the vertical display changelessness is one of the things that gives you a clearer picture.

SDTVs as per usual participate in a spruce up rate of 24, 30 or 50 frames per second versus HDTV’s refresh rates of 60-600Hz, with hertz (Hz) denotation actions per second. Higher brace rates do not coins picture quality, but they do as though the idea smoother, tricking our eyes into seeing the flickering cover as constant video.

Most example televisions use interlaced scanning, which offers greater image resolution than progressive scanning when subjects are not in proposition but loses up to half of the resolution when subjects move. On the other hand, high-definition televisions most often have a progressive scanning system, meaning quality is not sacrificed when subjects are striking on screen.

Once you have an HD television, or even without an HDTV, the next thing you will-power look at is HD content. You can notice HD representative sources on the Internet and video trick consoles or through terrestrial broadcast, direct broadcast satellite and digital cable. Created for the wittingly b especially of high-definition video, Blu-ray discs provide ample digital storage to go to HD video content. The discs were designed to replace traditional DVDs but have largely not been adopted at near the across the board public since their authorized disenthral in June 2006. A proponent of Blu-ray, Sony designed the PlayStation 3 to play Blu-ray discs while Nintendo’s restored Wii U will reinforcing HD and the Xbox 360 already supports 1080p quality.

There are lots of online video streaming sites, like YouTube, Hulu and Vimeo, that offer HD video. Online, HD quality videos grasp longer to load, and the image quality of online HD videos is lower than that of broadcast HD, and from time to time poorer than DVD video, because of the heavy compression required.

How and where we watch HD quality videos is changing commonplace due to advances in video technology. Whether you buy a 50 inches Panasonic Viera or an Apple iPhone, HD is appropriate the industry standard in video resolution, and it is important to positive what makes high-definition contrary from the old standard. For more information on HD videos please visit Premium HDV.

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pengampunan sebagai gaya hidup (Matius 18:21-35)

Posted by trisfant pada Agustus 27, 2011

Penulis: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

seorang supir Truk sedang duduk makan di sebuah restaurant. Sedang asyik-asyiknya dia menikmati makanan nya dan memikirkan bisnisnya, tiba-tiba pintu restaurant dibuka dengan kasar. Dan masuklah beberapa orang gang bermotor ke dalam restaurant ituMereka berjalan menuju ke arah supir Truk dan berkata: ”kami mau pakai meja ini. Supir Truk menjawab dengan kalem: ”Maaf ya mas, saya belum  selesai makan.”. Kemudian pemimpin Gang bermotor itu mengambil cangkir kopi, gula,  dari supir Truk dan meletakkan semuanya di atas piring makanan. Dan berkata:” sekarang kamu sudah selesai”. Bagaimana respon supir Truk ini? Dia bangkit dengan tenang dan berjalan keluar  menuju pintu.  Anggota-anggota gang bermotor langsung mentertawakan supir Truk itu. Mereka berkata :”dia bukan laki-laki, tapi banci. Namun tidak lama kemudian terdengar suara gaduh di luar restaurant. Apa yang terjadi? Ternyata si supir truk menabrak sampai hancur semua motor-motor gang itu dengan truknya yang besar. Kisah ini hanyalah kisah dalam sebuah film.    

 

Ada sebuah kisah yang lain, kisah nyata, bukan dari film, terjadi tahun 1900 awal. Ketika itu, Turki memimpin pemusnahan orang-orang Armenia. Seorang pemimpin Turki menyerbu ke rumah-rumah orang Armenia. Dia membunuh orang-orang yang lanjut usia. Mengambil wanita –wanita untuk pasukannya dan untuk dirinya. Akhirnya seorang wanita berhasil meloloskan diri. Wanita ini kemudian mengikuti pendidikan menjadi seorang perawat./suster. Ternyata setelah selesai dia ditempatkan di sebuah rumah sakit Turki. Suatu malam , dengan hanya diterangi oleh lentera, dia melihat wajah pemimpin Turki yang jahat itu sedang terbaring sakit parah. Bagaimana respon wanita ini? Dia melakukan semua yang bisa dikerjakannya untuk menolong pria tersebut. Dia terus bekerja dan menolong orang turki itu sampai sembuh. Suatu hari, dokter dan perawat berdiri di samping ranjang orang turki tersebut. Dokter itu berkata seperti ini:”tanpa perhatian wanita ini, kamu sudah lama mati.

Kemudia pemimpin Turki itu memandang  wanita tersebut dan berkata:” “sepertinya kita pernah ketemu”.

“Ya” jawab perawat tersebut: Kita pernah ketemu”.

Lalu jawab orang Turki itu:, “mengapa kamu tidak  membunuh saya?

Wanita itu menjawab: saya seorang pengikut Yesus yang memerintahkan kepada kami:”kasihilah musuhmu.

Apakah perbedaan antara perawat tersebut dengan supir truk yang tadi saya ceritakan? Supir truk tadi bereaksi dengan keras ketika waktu makannya diganggu, ketika dia dilecehkan oleh gang bermotor. Sebaliknya perawat ini meresponi seorang pembunuh dengan cara bekerja  siang dan malam untuk menyelamatkannya dari kematian.

Mari kita jujur  dalam kasus ini. Kita merasakan bahwa pengampunan itu mengagumkan, heroic, bersifat kepahlawanan.Namun kalau kita mau jujur juga, kita merasakan bahwa pembalasan dendam itu nikmat. Kalau kalian nonton film dimana jagoan kita memulai aksinya membalas dendam, wah betapa nikmatnya bukan? Nikmat melihat musuh-musuhnya dihajar dan disiksa satu persatu sampai mampus. Kisah perawat tadi memiliki holy ending (Kisahnya berakhir dengan kekudusan). Tetapi kisah si supir Truk tadi berakhir dengan happy ending, bukan? (berakhir dengan menyenangkan karena si supir Truk bisa membalas dendam kepada gang bermotor tadi).

 

Kita suka ketika supir truk menghancurkan motor dari gang bermotor yang jahat itu. Kita mengatakan keadilan ditegakkan. Yang jahat harus dibalas dengan yang jahat.

Namun apakah seperti itu? Apakah adil ketika motor yang jumlahnya sekitar beberapa ribu dollar dihancurkan hanya gara-gara jam makan terganggu, atau karena makanan si supir truk dibuang? Tidak adil bukan? Harga motor yang sangat mahal kalau dibandingkan dengan makanan maka harga makanan tidaklah seberapa. Tetapi si supir truk sudah membalas dengan lebih dahsyat.

 

Ada orang yang  tidak bisa tahan disakiti oleh sesamanya. Sekali disakiti langsung dibalas. Namun ada juga yang cukup tahan sampai, 2 kali baru dia balas sekali, dengan sekali pembalasan yang dahsyat.  Sehingga ada pepatah orang dunia: kalau kamu baik sama saya, saya akan 100 kali lebih baik kepadamu, tetapi kalau kamu jahat kepada saya maka saya akan 1000 kali lebih jahat terhadap kamu.

Dalam pandangan Rabi-rabi Yahudi, pengampunan cukup diberikan sampai 3 kali.  Dalam Yoma 86b:” Jika seseorang melakukan pelanggaran, maka pertama, kedua dan ketiga dia boleh diampuni, tetapi pada kali yang ke empat tidak lagi diampuni. Jadi orang Yahudi memberikan batasan, sampai 3 kali kamu boleh membuat saya jengkel, marah, sakit, menderita, tapi kali ke empat saya tidak akan tinggal diam, saya tidak bisa lagi mengampunimu, saya akan balas, dan pasti pembalasannya lebih  keras, sebab dendamnya sudah disimpan cukup lama.

Petrus terlatih di dalam hukum dan tradisi Yahudi. Dari Tradisi Yahudi, dia mengetahui bahwa  mengampuni sesama ada batas sampai 3 kali. Petrus tahu tugasnya. Petrus telah belajar tentang pentingnya pengampunan, dan dia menyadari bahwa dia harus mengampuni saudaranya. Namun muncul suatu pertanyaan di dalam dirinya, bagaimana pendapat Yesus tentang pengampunan, apakah ada batas di dalam memberikan pengampunan? Apakah cukup 3 kali atau mesti 7 kali saya mengampuni? Sampai mana batasnya saya bersabar dan memberikan pengampunan? Sampai kapan saya bisa membalas dendam? Petrus bertanya :” Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai 7 kali? Ketika Petrus mengatakan 7 kali, dia sudah melipatgandakan sebesar 2 kali lipat dari aturan rabi-rabi Yahudi. Petrus merasa kalau pengampunan diberikan sebanyak 7 kali, maka itu sudah cukup, karena sudah melebihi apa yang dikatakan oleh rabi-rabi Yahudi. Petrus  berharap bahwa Yesus akan menjawab: Ya petrus cukup sampai 7 kali kamu mengampuni saudaramu.”  Tetapi jawaban Yesus tidak seperti yang dia harapkan:   Yesus berkata:  saya beritahukan kepadamu, bukan 7 kali tetapi 77 kali 7. NIV:: 77 kali. LAI: 70 kali 7 kali.

Ketika Yesus menjawab sampai tujuh puluh kali tujuh kali, bukan berarti, bahwa kita dianjurkan untuk menunggu dan menghitung kesalahan orang lain sampai angka 77 kali, dan setelah orang tersebut bersalah yang ke 78 kali barulah kita mengadakan pembalasan. Bukan itu maksud Tuhan Yesus. Pengampunan itu bukan hitungan matematika. Bagi Yesus pengampunan itu sepenuh hati dan sifatnya konstant.Pengampunan itu tidak ada batasnya, tidak terhingga. Dan karena itu, orang kristen harus terus mengampuni dari hari lepas ke sehari. Tidak pernah bosan mengampuni. Tidak pernah berhenti mengampuni. Pengampunan itu seperti makanan sehari-harinya. Atau dengan kalimat yang lebih keren:  PENGAMPUNAN ADALAH WAY Of LIFE ATAU CARA HIDUP ORANG KRISTEN.

Pembalasan dendam bukanlah way of life atau bukan cara hidup dari murid-murid Yesus. Yesus menegaskan pengajarannya ini dengan memberikan perumpamaan. Yesus memberikan perumpamaan bahwa hal kerajaan surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Kata hamba yang digunakan bukanlah berarti budak. Kata hamba memang biasa dipakai untuk orang-orang yang melayani raja.  Hamba-hamba yang dipanggil menghadap adalah mereka yang memiliki jabatan tinggi. Pada saat itu, raja memanggil mereka dengan maksud mengadakan perhitungan atas uang yang telah dipinjamkannya kepada mereka. Kemudian dihadapkanlah seorang yang berhutang 10.000 talenta. Kata dihadapkan ini memberikan kepada kita kesan bahwa orang tersebut mencoba menghindar dari pengadilan raja atau dia telah ditahan sebelumnya karena hutang-hutangnya tersebut sebelum pengadilan di gelar. Hutangnya berjumlah 10.000 talenta, uang yang sangat besar jumlahnya. Mungkin hamba ini seorang pejabat tinggi yang dipercaya mengelola uang yang sangat besar. Dan diduga bahwa dia adalah pemungut pajak petani di daerah yang kaya. Hutang sebesar 10.000 talenta adalah sebuah jumlah yang tak ada taranya. 10.000 talenta berarti tak terhitung, tak terbatas, tak terbilang. Dalam Greek English Lexicon,  jumlah 10.000 telanta besarnya sekitar beberapa juta dollar.  Lebih jauh lagi Telanta pada zaman itu satuan yang paling besar dalam sistem pembayaran. Sebagai perbandingan, Herodes  setiap tahunnya memiliki penghasilan dari seluruh kerajaannya sekitar 900 talenta. Kalau Herodes setiap tahunnya memiliki penghasilan 900 talenta, sedangkan orang ini berhutang 10.000 talenta, berarti , hamba ini memiliki hutang yang sangat dahyast. Kita tidaklah diberitahu, apa yang telah dia lakukan dengan uang tersebut. Kita tidak tahu mengapa jumlah uang yang sangat besar itu, bisa habis, apakah dia berfoya-foya atau istrinya memboroskan, kita tidak tahu. Hal tersebut tidak penting, yang penting dia telah berhutang dalam jumlah yang sangat besar. Pada hari itu, dia menyadari bahwa dia tidak bisa membayar hutang tersebut.Hamba tersebut karena tidak dapat membayar hutang-hutangnya, maka dia dan keluarganya serta harta miliknya akan dijual. Kelihatannya tidak fair, mengapa anak dan istri juga mesti dijual. Pada zaman itu, karena anak dan istri adalah milik dari hamba tersebut, dan hamba itu sendiri telah dijual, maka berarti secara alamiah, seluruh miliknya termasuk anak dan sitrinya juga turut terjual.  Hamba ini berhutang sangat besar, maka dia harus juga membayar dengan hukuman yang sangat besar. Penjara sudah dikenal pada zaman Roma Yunani. Penjara selain menahan jangan melarikan diri, juga memberikan kesempatan buat kerabatnya untuk menebusnya dari penjara dengan membayar lunas hutang-hutangnya. Jadi ketika dirinya dan keluarga nya dijual, maka itu sudah merupakan hukuman yang adil. Semua ini merupakan bencana bagi hamba tersebut. Hutang yang sangat banyak, serta semua harta benda miliknya dijual,  maka tidak ada kesempatan lagi  bagi dia untuk bebas. Segala sesuatu telah hilang. Keadilan sudah tidak berguna lagi baginya. Walaupun pun dia mencari pengacara yang hebat, dia tetap terjerat oleh hukum keadilan yang ditimpakan atas dirinya. Hal yang paling dia butuhkan saat ini adalah kemurahan. Kemudian dia bersujud dan menyembah. Dia minta keringanan dengan segala upayanya. Raja menaruh belas kasihan kepada hamba tersebut. Hati raja tergerak oleh belas kasihan. Kalau pada mulanya, raja ini hendak melemparkan orang tersebut ke dalam penjara, tetapi sekarang hatinya tergerak oleh belas kasihan dan memberikan pengampunan buat hamba tersebut. Raja ini melakukan lebih dari yang diminta oleh hamba itu. Hamba tersebut, meminta  waktu untuk melunasi hutangnya, walaupun tidak mungkin dia mampu membayar hutangnya, tetapi raja menghapus semua hutangnya. Dia membebaskan orang itu dari penjara dan meghapuskan hutang-hiutangnya. Raja tidak memberikan syarat untuk penghapusan hutang nya dan juga tidak ragu-ragu.  Penghapusan hutang diberikan sebagai suatu anugerah.

Hamba ini ternyata juga memiutangi orang lain sebesar 100 dinar.  Satu dinar adalah koin perak Romawi, biasa dipakai untuk membayar upah sehari kerja.  Untuk mendapatkan 100 dinar, seseorang harus bekerja selama 100 hari, Memang tidak bisa dianggap remeh, namun bila dibandingkan dengan hutang hamba pertama ini yang jumlahnya 10.000 Talenta, maka 100 dinar itu sangat jauh lebih kecil daripada 10.000 talenta= 6.000.000 dinar. Namun hamba yang jahat ini dengan antusias menagih hutangnya kepada temannya, ditangkap sampai dicekik. Seperti seorang Preman yang sedang menagih hutang. Kawannnya pun memohon belas kasihan kepada hamba yang pertama ini. Kita tentu berharap hamba ini bersedia membebaskan juga hutang temannya, namun ternyata dia bertindak sebaliknya. Dia menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai hutang-hutangnya dilunasi. Temannya yang dipenjarakan ini tentu tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh uang, maka harapannya menjadi suram. Disini Yesus menggambarkan kepada kita, sebuah contoh betapa mengerikannya hati yang tidak mau mengampuni. Betapa menyedihkan hati yang tidak memiliki rasa terima kasih kepada yang sudah mengampuninya.

Raja itu, ketika mendengarkan apa yang terjadi, sangatlah marah.  Maka raja itu memanggil hamba yang jahat itu dan berkata kepadanya, “Hamba yang jahat! Seluruh utangmu sudah kuhapuskan hanya karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus menaruh kasihan kepada kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Hamba yang jahat ini gagal menjadikan pengampunan sebagai cara hidupnya, padahal dia baru saja menerima pengampunan yaitu pembebasan hutang. Hatinya tidak tersentuh oleh kemurahan raja yang telah diterimanya. Dan karena hatinya tidak tersentuh, maka cara hidupnya juga tidak berubah. Dia lebih suka menuntut keadilan daripada mengampuni, padahal dia sudah dibebaskan dari pengadilan.

Anugerah Allah yang diberikan buat saudara demikian besarnya, tidak bisa dihitung, Begitulah juga seharusnya pengampunan yang saudara berikan kepada sesamamu. Suatu Pengampunan yang juga tidak terbatas. Pengampunan yang sudah menjadi gaya hidup mu Kalau saudara perhatikan di film, film itu selalu menonjolkan pembalasan dendam. Itu dilakukan karena balas dendam sudah menjadi way of life orang-orang dunia. Balas dendam dianggap alami oleh orang-orang dunia. Sedangkan pengampunan dianggap tidak alami. Kita sudah mengalami sesuatu yang tidak alami, yaitu pengampunan dari Allah. Untuk itu, Allah tidak mau kalau kita menjalani hidup ini dgn cara yang alami, yaitu balas dendam. Allah ingin kita menjalani hidup ini dengan cara supranatural , menjadikan pengampunan sebagai way of life dalam hidup saudara. Cara supranatural ini tidak akan dapat dilakukan oleh orang-orang dunia. Hanya dapat dilakukan oleh mereka yang sudah mengalami kasih Kristus.

Perumpamaan tentang pengampunan ini letaknya di dalam alkitab seperti sandwich. Perumpamaan ini diapit oleh dua topik pengajaran Yesus. Pertama sebelum perumpamaan ini Tuhan Yesus membahas tentang menasihati sesama saudara. Dan setelah perumpamaan pengampunan Tuhan Yesus membahas tentang perceraian. Kedua topik ini, yaitu hubungan dengan saudara-saudara seiman dan hubungan suami istri membutuhkan pengampunan. Seberapa tegang hubungan saudara dengan rekan-rekan di gereja? Seberapa tegang juga hubunganmu dengan istri atau suami/anak? Apakah sudah sampai tahap hendak bercerai? pemecahannya hanya terletak pada pengampunan. Dari penelitian yang dilakukannya, seorang ahli menyimpulkan bahwa dalam kehidupan rurmah tangga, pada tahun pertama laki-laki bicara dan fihak perempuan yang mendengarkan. Pada tahun kedua wanita yang bicara dan fihak laki-laki yang mendengarkan. Pada tahun ketiga kedua suami istri sama-sama bicara, dan tetangga yang mendengarkan. Pertengkaran pasti timbul  dalam suatu rumah tangga. Sudah berapa kali suami menyakiti ibu-ibu. Sudah berapa kali istri saudara menyakiti saudara? Sudah 10 kali? Berapa kalipun saudara disakiti oleh pasanganmu, saudara tetap harus mengampuni. Bahkan sampai mati pun saudara tetap mengampuni, kalau pengampunan adalah cara hidup saudara. Hubungan suami istri akan pulih dan tidak perlu berakhir dengan perceraian jika ada pengampunan. Tidak perlu menunggu orang lain yang memulai. Kalau memang pengampunan adalah way of life kita maka kitalah yang memulai untuk mengampuni. Dunia yang berdosa, yang sering menyakiti orang lain, membutuhkan orang-orang kristen yang memiliki pengampunan sebagai  way of life nya. Jika saudara tidak bersedia mengampuni saudara-saudaramu, dan terus hidup dalam kebencian  maka saudara akan kesulitan hidup di dalam dunia ini. Kebencian kita terhadap orang lain akan menghabiskan komponen oranganik otak yang dikenal sebagai serotonin dan noradrenaline. Kehilangan zat ini bisa menyebakan depresi. Tengah malam akan terbangun dan sulit tidur lagi, mengalami gangguan konsentrasi dan memori, merasa lelah sepanjang hari, sakit kepala, menurunnya berat badan.  Kebencian yang terus dipupuk akan menyebabkan menurunnya antibodi, mudah terkena infeksi, bisa stroke.  Jika depresi terus berkepanjangan dan terus ada kebencian thd orang lain, maka orang itu akan melakukan bunuh diri. Jika saudara tidak bisa mengampuni, atau cara hidup yang penuh dgn pengampunan tidak saudara miliki maka saudara juga akan mengalami kesulitan dalam hubunganmu dengan Tuhan. Kita perhatikan bagian akhir dari perumpamaan Yesus. Ketika mendengar bahwa hamba yang telah dihapuskan hutangnya itu, tidak mau mengampuni kawannya yang berhutang 100 dinar, maka Raja itu sangat marah. Hamba yang jahat itu dimasukkannya ke dalam penjara sampai ia melunasi semua utangnya.” Dan karena hutangnya sangat besar, ini berarti dia tidak akan pernah keluar dari penjara itu. Hamba yang jahat ini tidak berhak mendapat lagi anugerah. Karena dia menolak untuk mengampuni kawannya. Saudara yang menolak memberikan pengampunan buat orang lain. Saudara tidak akan bisa mengucapkan doa Bapa Kami.Bukankah isi doa bapa kami bunyinya seperti ini :”ampunilah kami seperti kami telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Bagaimana mungkin saudara bisa mengucapkan doa Bapa kami dengan sungguh-sungguh jika masih ada orang yang belum bisa saudara ampuni. Ibadahmu juga akan terhalang, jika masih ada ganjalan dalam hatimu dengan saudaramu. (Mat 5:23). Doa mu akan terhalang, jika saudara tidak hidup bijaksana dengan istrimu (I Petr 3:7) Jadi setiap orang yang telah mengalami pengampunan harus siap untuk mengampuni orang lain yang berhutang kepadanya dan dia harus melakukannya dengan segenap hatinya. Untuk menjelaskan kebesaran kasih pengampunan  Allah, maka hal itu harus direfleksikan di dalam kehidupan kita. Apabila kita mengampuni orang lain , maka itu dapat menjelaskan kasih,  pengampunan  dari Allah yang sudah diberikan kepada kita.

Salam: yohannis trisfant

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

KEMULIAAN KRISTUS (MATIUS 17:1-9)

Posted by trisfant pada Agustus 27, 2011

Penulis: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

Hari ini , kita akan mendengarkan kisah mengenai peristiwa yang ajaib yang dilakukan oleh Kristus. Peristiwa ini adalah sesuatu yang misteri dan luar biasa, dimana kemuliaan Tuhan Yesus Nampak di depan mata ketiga muridNya. Gereja gereja di Timur dan di Barat merayakan peristiwa pemuliaan ini pada tanggal 6 agustus. Memang, tanggal 6 agustus bukanlah tanggal yang tepat terjadinya persitiwa itu, namun banyak gereja gereja mengenang peristiwa itu pada bulan Agustus. Gereja di Timur menyebutnya denga Perayaan Perubahan Rupa dengan nama Taborian.

Enam hari setelah peristiwa kaisarea Filipi, Tuhan Yesus membawa ketiga murid yang dekat dengannya yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes ke sebuah gunung yang tinggi. Gunung apakah ini?  Kalau gereja di Timur menyebutnya gunung Tabor. Namun sebenarnya gunung Tabor terlalu jauh dari Kaesaria filipi. Kaesaria Filipi terletak di bagian utara sedangkan gunung Tabir di sebelah selatan. Lebih cocok kalau dikatakan, bahwa Gunung ini adalah gunung Hermon dan lebih dekat dengan kaisarea Filipi. Disana suasananya sepi.

Apakah yang terjadi di gunung itu? Tuhan Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang, berkilat kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Kemudian mereka melihat Musa dan Elia sedang berbicara dengan Tuhan Yesus. Musa adalah nabi yang memebrikan hukum hukum Allah kepada bangsa Israel. Berkat Musalah, bangsa Israel memiliki hukum hukum Allah, termasuk 10 hukum. Sedangkan Elia adalah nabi yang sangat besar dan terutama diantara para nabi nabi dalam kerajaan Israel.  Musa, sebagai pemberi hukum yang terbesar dan Elia sebagai nabi yang terbesar diantara para nabi bertemu dengan Tuhan Yesus sebelum Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib.  Kedua orang ini menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara dengan Tuhan Yesus.  Apakah yang dibicarakan oleh kedua orang hebat itu dengan Tuhan Yesus?  Mereka  berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:31  ). Kedua nabi ini menyadari bahwa semua yang mereka inginkan, rindukan, nanti nantikan di masa lalu ada di dalam diri Tuhan Yesus.  Penggenapan Taurat, penggenapan nubuatan tentang datangnya Mesias, tentang penebusan semuanya ada dalam Kristus. Seolah olah saat itu Tuhan Yesus diyakinkan oleh mereka bahwa Tuhan Yesus menebus manusia berada di dalam jalur yang benar. Karena semua sejarah alkitab mengarah kepada salib. Seolah olah kedua nabi itu berkata kepada Tuhan Yesus yang akan naik di atas kayu salib seperti ini: “teruskan”.

Petrus yang melihat Musa dan elia  sedang berbicara kepada Yesus menjadi kaget dan senang sekali. Selama ini dia hanya mendengar dari kitab suci mengenai kedua nabi itu, namun sekarang dia bisa melihatnya sedang berbicara dengan Tuhan Yesus di dalam kemuliaan. Petrus langsung berkata kepada Tuhan Yesus:  “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”  Mungkin Petrus pikir, kedua tamu itu akan tinggal agak lama di atas gunung untuk berbcicara dengan Tuhan Yesus, makanya dia mau mendirikan tiga kemah. Namun ketika dia sedang berkata – kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”  Ini adalah suara Allah. Kehadiran Allah biasanya dinyatakan melalui kehadiran awan. Dan kalimat yang diucapkan oleh suara ini sama ketika Tuhan Yesus dibaptiskan yaitu: inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan. (matius 3:17). Hal ini menunjukkan bahwa Allah Bapa setuju dengan Misi Allah Anak untuk menebus manusia di atas kayu salib.  Seolah oleh Allah Bapa mengatakan kepada Allah Anak:  teruskan sampai ke kayu salib.

Penebusan dosa kalian, adalah penebusan dosa yang sudah direncanakan sebelum dunia ini. Penebusan dosa kalian, sudah dinubuatkan ribuan tahun sebelum natal. Penebusan dosa kalian bukanlah sebuah acara dadakan dari Allah. Itu semua sudah direncanakan. Penebusan dosa merupakan rencana dan pekerjaan yang besar dari Allah dan didukung sepenuhnya dari soranga.

Kita harus memuji Allah karena karya penebusannya di atas kayu salib atas hidup kalian. Kita mesti setiap hari bersyukur kepada Allah yang telah menanggung dosa dosa kita di atas kayu salib. Belajarlah bersyukur bukan hanya untuk kesehatan, untuk pekerjaan, studi, tetapi bersyukurlah juga setiap hari untuk anugerah keselamatan yang sudah kalian terima dari Tuhan Yesus. Anugerah keselataman itu Cuma Cuma diberikan oleh Tuhan, tetapi harganya sangat mahal karena dibayar dengan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib.

Salam: Yohannis Trisfant

Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »

INTEGRITAS

Posted by trisfant pada Agustus 26, 2011

Penulis: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh

INTEGRITAS

1 Sam 13:14; Kisah 13;22; Mazmur 78: 72

PENDAHULUAN

Pria dan wanita yg berkenan di hati manusia mudah kita temui. Tetapi orang yg berkenan di hati Allah sulit di cari. Apakah itu hidup yang berkenan kepada Allah?  Apakah hidup yang berkenan di hati Allah berarti hidup yg tanpa dosa? Apakah orang yang berkenan di hati Allah tidak memiliki kekurangan-kekuarangan? Bukan, org yg berkenan di hati Allah bukannya orang yang tanpa dosa, bukannya orang yang sempurna.

Daud adalah orang yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, namun dia disebut sebagai orang yang berkenan di hati Allah? Apakah yg membuat seseorang berkenan di hati Allah. Salah satu hal yang membuat Daud berkenan di hati Allah adalah dia memiliki integritas.  Mazmur 78:71-72 Dari tempat domba-domba yg menyusui didatangkanNya dia, untuk menggembalakan Yakub, umatNya, dan Israel, milikNya sendiri. Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya

Sifat apakah yg dimiliki oleh Daud yg membuat dia dikenan oleh Allah? Dari ayat tadi, Mazmur 78, ada dua hal yang dimiliki oleh Daud. Apakah itu? Ketulusan hati dan kecakapan tangan (keterampilan)

 

Daud memiliki kemampuan memimpin bangsa Israel. Namun hal yang paling penting yang dimiliki Daud adalah ketulusan hati.

Apakah itu ketulusan hati? NIV: Mazmur 78: 72 And David shepherded them with integrity of heart; with skillful hands he led them. NKJ: Mazmur 78: 72 So he shepherded them according to the integrity of his heart, and guided them by the skillfulness of his hands. Karakter yang dimiliki oleh Daud sebelum menjadi pemimpin dan selama menjadi pemimpin adalah dia berintegritas

Apa itu integritas? Integritas adalah keadaan saudara ketika tidak ada orang yang melihatnya. Artinya saudara benar-benar jujur. Dengan kata lain, apa yang nampak diluar sama dengan apa yang ada di dalam hati saudara.. Apa yang saudara katakan, sama dengan apa yang ada di hati saudara. Tidak ada kemunafikan.

Saya akan beri contoh, sebuah kisah nyata. Seorang Pendeta pernah bercerita tentang kisah pemilihan majelis di gereja. Setelah melalui proses pemilihan yang cukup seru maka terpilihlah 10 orang untuk menjadi majelis dalam periode yang baru. Lalu tibalah mereka pada acara pemilihan ketua majelis. Hampir semua majelis yang baru terpilih mendesak seorang bapak, katakanlah bapak A, untuk menjadi ketua majelis. Tetapi berulang kali bapak A berkata: “Jangan saya tidak bisa, saya tidak pantas, sungguh jangan saya tidak mau. Akhirnya, pemilihan ketua majelis diadakan dengan cara setiap orang menulis di selembar kertas kecil sebuah nama yang difavoritkan untuk menjadi ketua. Setelah 10 orang majelis itu selesai menulis dan kertas dikumpulkan, kemudian nama-nama di kertas itu dibacakan dan hasilnya ditulis dipapan tulis.Ternyata dugaan semua orang tidak meleset, dari kertas pertama sampai kertas kesembilan nama yang tertulis adalah nama bapak A. Semua orang tertawa dan menyalaminya. Bapak A menjadi rikuh dan berkali-kali berkata: “Jangan, jangan saya orang lain saja. Saya tidak mau! Ketika orang sedang sibuk menyalaminya, sang pendeta berkata: “Coba bukalah kertas yang terakhir? Semua orang tenang kembali, kemudian kertas kecil itu dibuka dan nama yang terakhir itu adalah juga nama bapak A. Itu berarti bahwa bapak A telah memilih dirinya sendiri

Semua orang menjadi bingung dan bertanya-tanya tentang diri bapak A, “mengapa yang dikatakan oleh bapak A berbeda dengan yang tersimpan di dalam hatinya?” Bapak A ini tidak punya integritas.  Apa yang ada dimulut berbeda dengan yang ada dihati. Dengan kata lain, “mengapa citra yang diberikan oleh bapak A kepada orang-orang di sekelilingnya berbeda dengan integritas yang ada di dalam dirinya.”

Daud melakukan pekerjaannya dengan penuh integritas. Dia tidak munafik. Apa yang nampak di luar sama dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dia benar-benar jujur. Daud tdk bermain sandiwara untuk menunjukkan bahwa dirinya baik. Dia memang baik. Alkitab mengatakan dia memiliki integritas. Banyak orang yg berpendapat seperti ini :” yang penting adalah kesan yang bagus, hanya itu yang penting. Namun kalau saudara mempunyai filosofi yang seperti itu, saudara tidak akan pernah menjadi anak Allah.

Kita tidak dapat mengelabui Yang Mahakuasa.. Allah tidak terkesan dengan penampilan luar. Allah selalu terpusat pada kualitas bagian dalam….dimana ini membutuhkan waktu dan dispilin untuk mengolahnya. Ketika Samuel memilih calon raja Israel untuk menggantikan Saul, Samuel tertarik dengan Eliab yang parasnya ganteng, tubuhnya tinggi besar, tetapi TUHAN berkata kepadanya,” “jangan pandang parasnya atau perawakan yg tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yg dilihat Allah; manusia melihat apa yg ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1 Sam 16:6,7)

Kemudian Abinadab, Syama dan yang lainnya juga ditolak oleh Tuhan, mengapa? Karena Tuhan tidak dapat dibujuk dgn penampilan luar, Tuhan melihat hati. Dan kualitas ini ada pada anak bungsu Isai, yaitu Daud. Sehingga Daud disebut sebagai orang yg berkenan di hati Tuhan sebab Daud memiliki kualitas spritual yg dalam, memiliki integritas. Orang yg berkenan di hati Tuhan, yg punya kualitas spiritual mendalam pasti dicari Allah untuk menduduki jabatan kepemimpinan dimanapun itu

Apa yang saudara kejar saat ini? Keberhasilan di dalam karier, studi, pekerjaan? Kita berusaha keras meningkatkan citra kita didepan manusia. Kita bekerja keras agar citra kita naik, sehingga mendapatkan penghargaan dari manusia. Kita belajar keras supaya citra kita naik, sehingga disanjung oleh orang-orang. Kita mungkin melayani dengan sungguh-sungguh dan dengan motivasi supaya citra kita naik di mata orang lain. Namun semua citra yang hebat itu tidak ada gunanya kalau integritas kita tidak dibangun. Semua itu akan hancur

Banyak orang yang hebat, berhasil; di mata dunia, dihormati di masyarakat, tetapi karena tidak punya integritas./kerohanian yang mendalam akhirnya hidupnya hancur, menjadi lesbian, homoseks, koruptor,, melahap org lain, menindas, rakus dll

Sangat menyedihkan, saat ini banyak orang yg berusaha lebih keras membangun citranya daripada membangun integritas mereka. Dengan kata lain, banyak sekali manusia bahkan orang Kristen yang berusaha sangat keras membangun penampilan luarnya daripada membangun kualitas rohaninya. Mereka merasa lebih dihargai kalau pakai barang-barang yg bermerek. Ini lebih diperhatikan daripada kualitas rohani mereka

Semua benda-benda mahal yang kita pakai, penampilan kita yang keren tidak ada gunanya, kalau kita tidak memiliki integritas

Tuhan Yesus mengecam dengan keras orang yg tidak punya integritas. Yesus mengatakan : “celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Fairis, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu berihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerasukan. Hai orang Farisi yg buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Kata celakanlah mengandung arti : ” kemarahan dan juga kedukaan. Tuhan Yesus geram dan juga sedih melihat kehidupan rohaniawan saat itu. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat berusaha menjaga penampilan luar mereka, nama baik mereka, kehormatan di mata publik. Namun sayang sekali, mereka hanya memoles bagian luarnya, bukan bagian dalamnya.

“Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih,”

Tuhan Yesus menyamakan para rohaniwan, pelayan Tuhan itu dengan orang buta yang tidak pernah melihat wajahnya sendiri di dalam cermin. Mereka disibukkan dengan imajinasi akan reputasi diri mereka, tetapi tidak mau introspeksi diri dan menyadari realita yang ada.

Namun demikian, di sini Yesus memberikan satu prinsip “kebangunan” untuk para pemimpin itu, yaitu bereskanlah yang di dalam lebih dahulu, yang tidak kelihatan oleh mata orang lain, maka yang di luar dengan sendirinya akan mengikuti.

Di cina kuno orang menginginkan rasa aman. Mereka takut dgn orang bar-bar dari utara. Untuk itu orang-orang Cina membangun tembok besar

  • Tembok itu begitu tinggi shg mereka yakin tidak ada seorang pun yg bisa memanjatnya
  • Dan tembok itu juga demikian tebal sehingga tidak ada apapun yang dapat mendobraknya
  • Mereka merasa sangat aman dengan tembok tinggi dan tebal itu
  • Namun dalam seratus tahun pertama sejak adanya tembok, Cina diserang tiga kali
  • Orang Barbar ini tidaklah memanjat tembok dan juga tidak menjebol tembok
  • Mereka hanya menyuap penjaga pintu gerbang dan kemudian masuk berbondong-bondong ke dalam kota

Kita lihat, bahwa orang-orang Cina begitu sibuk membangun tembok batu, sehingga lupa mengajarkan tentang integritas kepada penjaga-penjaga tembok

Walaupun temboknya hebat tetapi kalau penjaga nya tidak punya integritas apa gunanya, mereka bisa disuap. Demikian juga dengan gereja, jikalau para pemimpin, pelayan dan jemaat tidak punya integritas, APA GUNANYA? Kesaksian kita akan ditertawakan, injil akan dicemooh karena pelayan-pelayannya bobrok. Yudas memiliki penampilan hebat, dia murid Tuhan Yesus, dia seorang bendahara, pasti dia seorang ahli keuangan, tetapi karena tidak punya integritas/rohani yg mendalam, maka diapun menjual Tuhan Yesus

Satu saja murid yang tidak punya integritas, sudah bisa menjual Tuhan Yesus. Akibat dari pelayan yang tidak memiliki integritas, sangat parah dan merusak pekerjaan Tuhan. Selain merusak pekerjaan Tuhan, orang yang tidak punya integritas juga merusak dirinya sendiri. Hester H. Cholmondelay mengatakan :” ketika Yudas menjual Yesus 30 keping perak, maka sesungguhnya Yudas bukan menjual Yesus, melainkan dia menjual dirinya sendiri. Dia menjual kerohaniannya

Kalau kekayaan kita hilang, maka tidak ada yang hilang. Sebab kita lahir tanpa membawa apa-apa. Ketika kesehatan hilang, maka sesuatu hilang. Namun ketika watak hilang, maka segala-galanya hilang Orang Farisi dan ahli Taurat, sudah kehilangan watak. Rohani yg baik. Ini berarti mereka sudah kehilangan segala-galanya

Jika saudara sudah kehilangan spiritualitas yang mendalam, maka saudara sudah kehilangan segala-galanya. Tidak ada lagi yg dapat diharapkan dari saudara

Kita perlu segera datang kpd Yesus supaya yg bagian dalam ini dibereskan. Yesus mengatakan bereskan yg dalam dulu, maka bagian luar akan dengan sendirinya mengikuti.

Hati adalah pusat dari kehidupan batin seseorang, dimana seluruh kekuatan dan fungsi spiritual berasal. Hati adalah pondasi dibangunnya integritas. Bagi Allah hati seseorang merupakan standar ukuran dari pelayannnya.  Allah menilai hati bukan luar atau prestasi. Untuk itu Daud disebut sebagai orang yg berkenan di hati Allah. Sebab Daud memiliki spritualitas yg mendalam. Dan karena Daud memiliki Spiritualitas yg mendalam , maka dia siap untuk menduduki posisi kepemimpinan. Jika kita memiliki spiritualitas yg mendalam, maka kita memiliki segalanya, sebaliknya jika tidak punya spiritualitas mendalam, kita kehilangan segala-galanya

Sebelum Daud menjadi seorang raja Israel, dia adalah seorang gembala domba. Dia sering berada di dalam kesendirian, hanya bersama domba-dombanya. Selama bermalam-malam dia dia duduk sendirian dibawah bintang-bintang. Dia juga sendirian merasakan tiupan angin yg kencang. Sendirian merasakan panas matahari. Selain sendirian, Daud juga tidak dikenal oleh banyak orang. Dia hanya dikenal oleh domba-dombanya. Sebagai seorang penggembala,. Daud juga harus tahan mengerjakan pekerjaan yg monoton, rutinitas, yang tidak menarik, tidak penting. Namun walapun pekerjaannya monoton, tidak terkenal, tidak dilihat oleh orang lain, Daud tetap setia dan berintegritas dalam melakukan tugas-tugasnya ini

Daud memberikan kesaksian: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang yg menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya (1 Sam 17: 34-35)

Dari kesaksiannya ini, saya ingin bertanya, Pria seperti apakah Daud ini?  Dia adalah seorang Pria yg bertanggungjawab ketika tidak ada orang yg melihatnya. Siapa yang melihat dia membela mati-matian domba-dombanya? enggak ada. Orang yang memiliki integritas itu seperti ini. Walaupun tidak ada yang mengawasi, melihatnya, mereka tetap melakukan tugasnya dengan baik dan bertanggungjawab.  Daud sudah setia dalam perkara yang kecil yaitu menjaga domba-domba ayahnya, menyelamatkan mereka dari mulut singa dan beruang. Sehingga ketika datang perkara yg lebih besar, yaitu Goliat menantang Israel, maka Daud sudah siap dan mampu menghadapinya

Didalam perkara-perkara kecillah membuktikan bahwa kita mampu menghadapi perkara-perkaran yang lebih besar. Kalau saudara memiliki cita-cita yg tinggi, maka saudara harus memelihara kebiasaan untuk melakukan perkara-perkaran kecil dengan baik dengan penuh integritas. Jika sdr sudah belajar melakukan perkara-perkara kecil dengan baik, maka kata Charles Swindoll, pada saat itulah Allah akan memasukkan besi ke dalam tulangmu

Kita saat ini mungkin melakukan tugas-tugas yg rutin yg kelihatan tdk penting, tidak terkenal. Semua ini merupakan sebuah ujian bagi saudara, apakah bisa lulus dan melakukan dengan baik. Kalau saudara melakukan dengan bertanggungjawab wlp tidak ada yg melihat, maka itu berartu saudara siap melakukan tugas-tugas yg lebih besar yg dipercayakan Allah

Namun kalau yg kecil-kecil saja kita tidak becus melakukannya., tidak setia karena tidak diawasi, maka kita juga tidak akan becus melakukan perkara-perkara yang lebih besar dan tidak akan dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar. Ini berlaku baik di dalam pekerjaan ataupun didalam pelayanan kita. Daud berkenan di hati Allah, karena Daud setia melakukan pekerjaannya yang rutin, tidak terkenal. Daud berkenan di hati Allah, karena Daud memiliki integritas walaupun tidak ada orang yang mengawasi atau melihatnya. Mazmur 89:21 menuliskan:” DipilihNya Daud, hambaNya, diambilNya dia dari antara kandang-kandang kambing domba.

Allah berkenan kepada Daud bukan karena Daud itu punya banyak Talenta atau banyak karisma, atau karena memiliki pengaruh yg besar. Daud tidak punya pengaruh yang besar ketika dia dipilih untuk menjadi raja Isarel. Dia hanyalah seorang gembala domba.. Allah tidaklah peduli dengan catatan prestasi yg mengesankan. TUHAN lebih peduli dengan Karakter.

Apakah sdr punya hati seorang hamba? Mentaati Allah, punya srpitualitas yg mendalam, punya integritas? Melayani/bekerja dengan setia dan berintegriats? Inilah Daud. Dia memiliki spirtualitas yg dalam Iitulah sebabnya Daud berkenan di hati Allah

Bagaimana dengan kita ? apakah kita juga adalah orang yang berkenan di hati TUHAN. Daud bukan orang yg sempurna, dia punya banyak kelemahan, tetapi Allah melihat dia sebagai seorang yang berkenan di hatiNya.

Allah sedang mencari orang yang berkarakter, seorang yang hatinya benar dihadapan Allah. Allah tdk tertarik pada tinggi tubuh seseorang, tetapi kepada kebesaran jiwanya.

Kalau kita sudah ada di hatiNya Allah, maka berkat yg mengejutkan akan diberikan Allah. Coba perhatikan proses pemilihan raja di rumah Isai. Samuel sudah melihat semua anak Isai, dan tidak ada satupun yang berkenan di hati Tuhan.  Kemudian Samuel bertanya kepada Isai :” Inikah anakmu semuanya? Jawabnya: ”masih tinggal yg bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.”

 

Kata Samuel kepada Isai:”Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan sebelum ia datang ke mari. (1 Sam 16:11). Rupanya dalam proses mencari raja di rumah Isai ini, ada anak yang sengaja dilupakan yaitu Daud. Isai tidak mencalonkan anaknya yang bungsu yaitu Daud, sebagai raja. Isai sengaja melupakan Daud. Isai hanya melihat Daud tidak lebih dari seorang penjaga domba. Makanya Daud tdk diikutkan dalam pemilihan raja.

Namun walaupun manusia lupa, tetapi Allah tetap ingat. Kalau kita sudah ada dihatiNya Allah, maka walaupun manusia melupakan kita, Allah tetap ingat kita. Walaupun manusia melupakan Daud, tetapi Allah tetap ingat Daud. Allah di dalam kedaulatanNya memimpin Samuel sehingga menemukan Daud dan mengurapiNya menjadi raja. Daud diurapi menjadi raja bukan oleh keputusan seorang nabi besar seperti Samuel.. Tetapi semuanya oleh karena kedaulatan yg penuh dari Allah.

Allah ingat kepada orang-orang yg seperti Daud, orang-orang yg berintegritas. Keunikan Daud menjadi nyata, ketika tak satupun diantara ketujuh saudaranya yang kualifaid di mata Allah.

Kita melihat bahwa jabatan yang mencari Daud, bukan Daud yang mencari jabatan. Orang yang berkenan di hati Allah tidak perlu mencari jabatan, jabatan yang akan mencari kita.. Allah sedang mencari orang-orang yang seperti Daud untuk diberikan tanggungjawab yang besar dalam segala bidang, baik itu di gereja maupun di masyarakat

  • Yeh 22:30 Aku ,mencari ditengah-tengah mereka seorang yang hendak..mempertahankan negeri ini
  • Yer 5:1 lintasilah jalan-jalan Yerusalem, lihatlah….apakah kamu dapat menemui seseorang…….yang melakukan keadilan dan yang mencari kebenaran, maka Aku mau mengampuni kota itu

Baik kitab suci maupun sejarah Israel dan sejarah gereja membuktikan, bahwa jika Allah mendapatkan seseorang yang sesuai dengan persyaratan rohaniNya, yang rela untuk membayar seluruh biaya pemuridan, maka Ia akan memakai dia sepenuhnya meskipun orang itu penuh kekurangan. Orang-orang seperti ini adalah Musa, Gideon, Daud, Martin Luther, John Wesley, William Carey.

Kita seringkali lupa bahwa gereja kita, bangsa kita membutuhkan orang-orang Kristen yang berintegritas seperti Daud. Saat ini kita kurang orang-orang yang rohani dan kuat. Dan kurangnya orang-orang yang seperti ini merapakan suatu gejala penyakit yang mencekam.

Didalam dunia yang sedang bergejolak ini suara orang kristen sudah tidak terdengar. Orang Kristen hanya ramai, bersemangat di gereja, tetapi tidak ada suara kesaksian, tidak ada teladan. Tidak kualifaid oleh Tuhan. Tujuh orang saudara Daud, kelihatan hebat secara fisik, namun dianggap tidak memenuhi syarat untuk diberikan tanggungjawab yang besar.

Allah mencari dan mengingat orang-orang Kristen yg kualifaid. Walaupun seringkali kita lupa bahwa saat ini kita membutuhkan orang-orang Kristen yg seperti Daud, namun Allah tetap ingat. Tuhan sedang mempersiapkan kita disini untuk menjalani masa depan kita. seperti Daud yg sedang dipersiapkan dipadang penggembalaan. Setialah, milikilah integritas. Dan ketika tiba waktunya Tuhan akan memberikan kepada kita sebuah kepercayaan yang jauh lebih besar. Baik itu digereja ini, ataupun dimasyarakat kita.

Tahun 1809 disebut sebagai tahun yang baik, sebab sejarah mencatat bahwa pada tahun itu lahir negarawan, penulis, pemikir seperti Wiliam Gladstone, Alfred Tenysson, Oliver Wendell Holmes , Charles Robert Darwin, Abraham Lincoln, yang akan menandai permulaan suatu zaman

Namun pada tahun 1809 itu tidak ada yang peduli atau memperhatikan calon orang-orang hebat diatas.  Pada tahun itu dunia hanya memusatkan perhatiannnya kepada Napoleon yang berbaris melintasi Austria, dimana kota-kota dan kampung-kampung jatuh ke dalam genggaman nya

  • Dunia pada waktu itu hanya memperhatikan Napoleon yang hendak menguasai dunia. Dan semua orang bertanya-tanya apakah Napoleon akan mengusai dunia ini?
  • Sedangkan calon-calon orang hebat yang akan mengubah dunia, yang akan menyentuh kehidupan manusia, sama sekali tidak ada yang memperhatikan
  • Tetapi walaupun dunia tidak memeprhatikan William Gladstone, Abraham Lincoln dll namun Allah memperhatikan mereka
  • Allah memakai mereka dengan luar biasa

Seandainya sdr dan saya adalah orang Yahudi yg hidup pada tahun 1020 BC, mungkin hal yang sama juga terjadi pada kita. Semua perhatian kita akan difokuskan kepada Saul, raja pertama Israel. Saul adalah titik pusat dunia Yahudi pada waktu itu. Dia memimpin negeri itu dengan keras. Namun sementara itu, ada seseorang yang tidak berarti yang sedang menjaga domba-domba ayahnya diperbukitan Yudea dekat desa Betlehem. Seorang anak lelaki yang bernama Daud yang tidak diperhatikan orang…….KECUALI ALLAH

Saya yakin bhw diantara saudara ini, ada orang-orang yang seperti Daud, yg tidak menjadi pusat perhatian, namun sedang dipersiapkan Allah untuk menjadi alat yang luar biasa ditangan Allah. Efesus 2:10

Penulis: Yohannis Trisfant, MTh

 

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 215 pengikut lainnya.